Ada sebuah kisah yang diwariskan dari lembar-lembar hikmah para sufi. Jalaluddin Rumi menuturkannya dalam Matsnawi Maknawi, bukan sekadar sebagai cerita, melainkan sebagai cermin bagi siapa pun yang ingin memahami hakikat kehidupan.
Dikisahkan, seorang pemuda datang menghadap Nabi Musa AS dengan satu permintaan yang terdengar aneh: ia ingin mengerti bahasa binatang. Nabi Musa menolak. Beliau mengetahui bahwa tidak semua pengetahuan akan membawa manusia kepada keselamatan. Ada ilmu yang justru menjadi beban, bahkan petaka, bila berada di tangan yang belum siap.
Namun, sebagaimana lazimnya manusia yang dikuasai rasa ingin tahu, pemuda itu terus memohon. Ia bersikeras menerima apa pun risikonya. Akhirnya Nabi Musa mengabulkan permintaannya.
Sejak saat itu, ia mampu memahami percakapan ayam dan anjing peliharaannya.
Pada suatu pagi, ia mendengar ayam berkata kepada anjing bahwa kerbau majikannya akan mati esok hari. Mendengar kabar itu, sang anjing bersukacita karena bangkai kerbau akan menjadi santapan yang melimpah.
Pemuda itu segera berlari ke pasar. Sebelum takdir itu terjadi, ia menjual kerbaunya kepada orang lain. Benar saja, keesokan harinya kerbau tersebut mati. Ia merasa dirinya berhasil mengalahkan nasib.
Hari berikutnya, ayam kembali meramalkan bahwa budak miliknya akan meninggal. Tanpa ragu, pemuda itu kembali menjual budaknya. Ramalan itu kembali terbukti.
Kini ia semakin yakin bahwa kemampuan memahami bahasa binatang adalah anugerah terbesar dalam hidupnya. Dengan ilmu itu, ia merasa dapat menghindari segala kerugian.
Tetapi manusia sering kali lupa bahwa kemenangan yang terlalu cepat kerap menyembunyikan kekalahan yang lebih besar.
Keesokan harinya, pemuda itu kembali menguping percakapan ayam dan anjing.
Kali ini ayam berkata pelan,
“Besok, majikan kita akan meninggal.”
Dunia seakan runtuh di hadapan pemuda itu. Tubuhnya gemetar. Wajahnya pucat. Dengan napas yang tersengal, ia kembali menemui Nabi Musa AS sambil memohon agar kematian itu dibatalkan.
Nabi Musa memohonkan ampun kepada Allah. Namun ada ketentuan yang tidak dapat dihindari. Takdir tetap berjalan sebagaimana mestinya.
Pemuda itu akhirnya memahami, terlambat, bahwa bukan kerbau atau budaknya yang selama ini sedang diselamatkan, melainkan ajalnya sendiri yang sedang ditunda. Dengan menjual apa yang akan mati, ia justru sedang menghabiskan seluruh “pengganti” yang menjadi bagian dari ketetapan Ilahi, hingga akhirnya giliran dirinya sendiri tiba.
Kisah yang termuat dalam Matsnawi Maknawi Jilid III (bait 3266β3398) ini bukan sekadar dongeng sufistik. Di balik alurnya yang sederhana, Rumi menyisipkan pelajaran yang tetap hidup melampaui zaman.
Pertama, setiap keinginan memiliki harga yang harus dibayar.
Tidak semua yang kita inginkan layak untuk dimiliki. Ada pengetahuan yang belum waktunya diketahui, ada pintu yang justru merupakan bentuk kasih sayang Tuhan ketika dibiarkan tetap tertutup.
Rumi mengingatkan bahwa orang bijaksana adalah mereka yang memikirkan akibat sebelum bertindak, bukan mereka yang baru belajar setelah penyesalan datang. Kebijaksanaan bukan terletak pada banyaknya ilmu yang dimiliki, melainkan pada kemampuan menimbang konsekuensi dari setiap pilihan.
Kedua, keuntungan yang dibangun di atas kerugian orang lain hanyalah kemenangan yang semu.
Pemuda itu mengira dirinya cerdas karena berhasil mengalihkan kerugian kepada orang lain. Ia merasa selamat, padahal sesungguhnya sedang mempercepat kehancurannya sendiri.
Begitulah sifat ketamakan. Ia selalu menawarkan keuntungan sesaat, tetapi diam-diam mencabut keberkahan dari kehidupan.
Rumi menulis bahwa karena buta terhadap rahasia qada dan qadar, manusia menggenggam hartanya dengan erat, sementara tanpa sadar melepaskan jiwanya. Apa gunanya menyelamatkan harta bila akhirnya kehilangan diri sendiri?
Sesungguhnya setiap kezaliman akan kembali kepada pelakunya, sebagaimana gema yang selalu pulang kepada suara yang pertama kali meneriakkannya.
Ketiga, tidak semua rahasia kehidupan perlu dibuka.
Manusia sering mengira bahwa semakin banyak mengetahui, semakin besar pula kebahagiaannya. Padahal kenyataannya tidak demikian.
Bayangkan jika setiap orang mengetahui hari kematiannya, mengetahui seluruh masa depannya, atau mengetahui seluruh rahasia kehidupan. Mungkin kegelisahan akan menguasai setiap hari yang dijalani.
Karena itulah Tuhan menutup sebagian tabir, bukan untuk menyiksa manusia, tetapi agar manusia dapat hidup dengan harapan.
Rumi menyatakan bahwa rahasia alam gaib hanya diberikan kepada mereka yang benar-benar mampu menjaganya. Sebab tidak semua hati cukup kuat memikul beban sebuah pengetahuan.
Pada akhirnya, kisah ini mengajarkan satu kenyataan yang sederhana namun mendalam.
Manusia tidak ditugaskan untuk mengetahui segala sesuatu. Ia hanya diminta menjalani kehidupan dengan sebaik-baiknya.
Kita tidak mengetahui siapa jodoh kita, kapan rezeki datang, bagaimana akhir perjalanan hidup, atau kapan kematian akan menjemput. Justru karena ketidaktahuan itulah kita masih memiliki harapan, doa, ikhtiar, dan keyakinan.
Seandainya seluruh masa depan terbuka di depan mata, mungkin hidup akan kehilangan makna. Tidak ada lagi kejutan, tidak ada lagi pengharapan, tidak ada lagi ruang bagi tawakal.
Barangkali, di situlah letak kasih sayang Tuhan yang paling halus.
Dia tidak memperlihatkan seluruh jalan, tetapi memberi cukup cahaya untuk melangkah.
Maka jangan terlalu gelisah terhadap hari esok.
Sebab sesungguhnya, hidup menjadi lebih indah bukan karena kita mengetahui masa depan, melainkan karena hari esok tetap menyimpan misteri, sementara hati tetap percaya bahwa setiap takdir-Nya selalu mengandung hikmah.

