Close Menu
sahabatedu.com |  Make Things Happen..!
    TRENDING

    KBNU Cibarusah Menyongsong HSN 2026 dengan Istighosah Lailatul Ijtima’ dan Majelis Dzikir Sholawat Rijaalul Ansor

    26 September 2026

    Murid Mama Makmun Nawawi, KH Ahmad Rapei Berpulang Tinggalkan Jejak Pendidikan Islam

    22 September 2026

    Asep Gunawan Kembali Memimpin Jayamulya, Amanah Baru untuk Periode 2026–2034

    21 September 2026
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Trending
    • KBNU Cibarusah Menyongsong HSN 2026 dengan Istighosah Lailatul Ijtima’ dan Majelis Dzikir Sholawat Rijaalul Ansor
    • Murid Mama Makmun Nawawi, KH Ahmad Rapei Berpulang Tinggalkan Jejak Pendidikan Islam
    • Asep Gunawan Kembali Memimpin Jayamulya, Amanah Baru untuk Periode 2026–2034
    • dr. Mulyana Syarip Panija Pantau Langsung Pemeriksaan Kesehatan Petugas Pilkades Jayamulya
    • Musran PRNU Mekarsari Digelar, Penetapan Rais Syuriyah dan Ketua Tanfidziyah Jadi Agenda Utama
    • Juhamad, S.Pd Resmi Jalankan Tugas sebagai PLT Kades Jayamulya, Siap Layani Masyarakat
    • September 2026, MWCNU Cibarusah Salurkan Ribuan Liter Air Bersih ke 4 Titik, Kyai Dillah dan Kyai Jalal Turun Langsung
    • Safari Maulid Nabi Muhammad SAW PARNU Puri Persada Indah Resmi Dimulai
    • About Us
    • Contact
    sahabatedu.com |  Make Things Happen..!sahabatedu.com |  Make Things Happen..!
    Facebook Instagram TikTok
    Minggu, September 27
    • Berita
    • Tutorial
    • Tugas YADAS
    • Quotes
    • TokoKU
    • Cibarusah
    • Serang Baru
    • Bekasi
    • PD-DMI
    sahabatedu.com |  Make Things Happen..!
    Beranda » Blog » Fanatisme Buta – Usamah Zahid

    Fanatisme Buta – Usamah Zahid

    sahabateduBy sahabatedu6 April 2025Updated:13 April 2025 Quotes Tidak ada komentar2 Mins Read
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    Sering kali, kita terjebak dalam fanatisme terhadap individu atau kelompok yang kita anggap paling benar. Kecintaan yang berlebihan ini secara tidak sadar mengaburkan objektivitas kita, bahkan menumpulkan daya kritis dalam menilai sesuatu secara jernih dan adil.

    Ketika suatu kelompok melakukan kesalahan, pihak yang berseberangan akan membesar-besarkannya. Kesalahan tersebut tak jarang didramatisasi melalui narasi-narasi hiperbolik demi menggiring opini publik agar berpihak kepada kelompoknya. Sebaliknya, ketika kesalahan datang dari kelompok sendiri, sering kali justru didiamkan. Bahkan, berbagai narasi pembelaan lengkap dengan argumentasi pun dikonstruksi untuk menutupi atau membenarkan kekeliruan tersebut.

    Semua ini dilakukan demi menarik simpati publik sebanyak-banyaknya, khususnya dari kelompok massa mengambang yang belum memiliki keberpihakan yang jelas.

    Ambil contoh dalam kasus Fuad Plered. Ketika ia mengeluarkan pernyataan yang sangat tidak pantas, pihak-pihak yang satu barisan dengannya cenderung diam. Tidak ada suara tegas untuk menegur, apalagi mengkritik secara terbuka. Namun, di sisi lain, pihak yang mendukung klan Ba’alwi justru menjadikan pernyataan Fuad sebagai senjata untuk menyerang balik lawan-lawan mereka. Ucapan tersebut digeneralisasi seolah-olah mencerminkan akhlak semua pihak yang menentang mereka.

    Padahal, jika kita ingin jujur, tokoh-tokoh dari kubu lain seperti Rizieq Shihab dan Bahar Smith pun memiliki jejak rekam pernyataan yang jauh lebih kasar, vulgar, dan brutal—bukan hanya sekali, melainkan berulang kali di berbagai kesempatan. Tapi karena mereka berasal dari kelompok “sendiri”, kesalahan itu dianggap wajar, bahkan kerap dibela.

    Lalu, apa sebenarnya perbedaannya?

    Pada akhirnya, fanatisme yang membutakan dan kebencian yang membara terhadap pihak lawan tidak membawa kita pada tegaknya keadilan, justru sebaliknya—ia menjadi penghalang utama bagi terciptanya masyarakat yang adil dan beradab.

    Nabi Muhammad ﷺ pun telah mengingatkan dalam sebuah hadits: janganlah mencintai atau membenci secara berlebihan. Bisa jadi, orang atau kelompok yang hari ini kita cintai, suatu saat berubah menjadi yang paling kita benci. Begitu pun sebaliknya.

    Maka, menjadi objektif dan adil dalam menilai segala hal adalah sikap yang harus terus kita perjuangkan, dalam rangka menegakkan keadilan dan kesetaraan bagi seluruh manusia. Mungkin kita tak sempat menyaksikan hasilnya dalam hidup ini, mungkin pula perjuangan itu tampak seperti utopia. Bahkan tak menutup kemungkinan, kita sendiri tanpa sadar terjebak dalam fanatisme yang kita kritik.

    Namun, selama masih ada kesadaran akan pentingnya masa depan yang lebih baik bagi anak dan cucu kita, perjuangan ini tetap layak untuk dilanjutkan—dengan keikhlasan, ketekunan, dan nalar yang jernih.

    Naskah ini disunting oleh Ibnu Rifai,S.Kom adapun naskah asli bisa dibaca di https://nubekasi.or.id/fanatisme-buta/

    sahabatedu

      Keep Reading

      Murid Mama Makmun Nawawi, KH Ahmad Rapei Berpulang Tinggalkan Jejak Pendidikan Islam

      Safari Maulid Nabi Muhammad SAW PARNU Puri Persada Indah Resmi Dimulai

      Hidup Menjadi Indah Karena Misteri Hari Esok

      Pendidikan Berbasis Cinta: Ketika Guru Menjadi Orang Tua, Murid Menjadi Amanah – oleh Yai Subhan

      Rasa syukur adalah kunci untuk merasakan cukup dalam setiap keadaan.

      𝙈𝙀𝙉𝙔𝙊𝘼𝙇 𝙆𝘼𝙈𝙋𝘼𝙉𝙔𝙀 𝙐𝙉𝙏𝙐𝙆 𝙋𝙀𝙈𝙄𝙈𝙋𝙄𝙉 𝙉𝙐

      Add A Comment
      Leave A Reply Cancel Reply

      TRENDING

      Gerakan KOIN NU PARNU Puri Persada Indah, Receh Jadi berkah, Kebersamaan Jadi kekuatan

      5 Mei 2026

      Gerakan Koin NU ARNU Puri Persada Indah: Receh Jadi Berkah, Kebersamaan Jadi Kekuatan

      4 Mei 2026

      Subsidi Air Mineral untuk Tahlilan Ringankan Beban Warga, Jam’iyyah ARNU Puri Persada Indah Cibarusah Inisiatif Gotong Royong

      4 Mei 2026

      Innalillahi, Mujiburahman (Gus Mujib) Tutup Usia, NU Perum Mega Regency Kehilangan Kader Terbaik

      1 Maret 2026
      POSTINGAN TERBARU

      KBNU Cibarusah Menyongsong HSN 2026 dengan Istighosah Lailatul Ijtima’ dan Majelis Dzikir Sholawat Rijaalul Ansor

      26 September 2026

      Murid Mama Makmun Nawawi, KH Ahmad Rapei Berpulang Tinggalkan Jejak Pendidikan Islam

      22 September 2026

      Asep Gunawan Kembali Memimpin Jayamulya, Amanah Baru untuk Periode 2026–2034

      21 September 2026
      Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
      • Disclaimer
      • Privacy
      • Advertisement
      • About Us
      © 2026 Sahabat Education

      Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

      Ada Pertanyaan..? Klik DISINI