Beranda Quotes Ketika Resi Menjadi Syuriyah, dan Ksatria Menjelma Tanfidziyah

Ketika Resi Menjadi Syuriyah, dan Ksatria Menjelma Tanfidziyah

165
0
Ketika Resi Menjadi Syuriyah, dan Ksatria Menjelma Tanfidziyah
Ketika Resi Menjadi Syuriyah, dan Ksatria Menjelma Tanfidziyah

Oleh Ibnu Rifai, S.Kom

Dalam khazanah tradisi Islam Nusantara, Syuriyah NU bisa dimaknai sebagai Resi zaman modern—mereka bukan sekadar ahli agama, tetapi pelita spiritual yang menerangi jalan masyarakat di tengah zaman yang kian kompleks. Seperti halnya Resi dalam pewayangan yang membimbing ksatria untuk tetap tegak dalam dharma, para ulama Syuriyah membimbing umat agar teguh dalam syariat dan akhlakul karimah.

Dengan memahami persamaan ini, kita dapat menjembatani nilai-nilai Islam yang diusung Nahdlatul Ulama dengan kearifan lokal budaya Jawa yang tertanam dalam kisah pewayangan. Ini adalah bentuk ta’lif al-qulub (penyatuan hati) antara agama dan budaya, antara syariat dan tradisi, antara langit dan bumi.

AspekSyuriyah Nahdlatul UlamaResi dalam PewayanganPersamaan Persepsi
Peran UtamaPenentu kebijakan keagamaan, rujukan fatwa, pemegang otoritas syar’iGuru spiritual, pembimbing moral para ksatria dan rajaKeduanya berperan sebagai penjaga nilai, penuntun moral dan spiritual umat
Sumber KewibawaanIlmu agama, sanad keilmuan yang tersambung ke ulama-ulama besarTapa brata, ilmu kanuragan dan kesaktian rohani dari lelaku panjangSama-sama dihormati karena kedalaman ilmu dan ketekunan spiritual
Kedudukan SosialDi atas struktur Tanfidziyah, sebagai rujukan tertinggi dalam keputusan organisasiDi luar struktur kerajaan, namun dihormati dan sering dimintai nasihat oleh rajaMemiliki kedudukan tinggi di luar kekuasaan struktural tapi jadi rujukan utama
KekuasaanTidak operasional (eksekutif), tetapi mengarahkan dan mengontrol kebijakanTidak memerintah langsung, tetapi pengaruhnya besar pada penguasa dan masyarakatSama-sama bukan pemegang kuasa langsung, tetapi menentukan arah gerak moral
Karakter KepemimpinanKolektif kolegial, musyawarah ulamaIndividual, tetapi bisa juga dalam kelompok padepokanPemimpin bijak, mengedepankan kebersamaan dan kebatinan, bukan kekuasaan lahiriah
Fungsi dalam KonflikPenengah, pemberi fatwa, penjaga ukhuwah dan kemaslahatan umatPenyeimbang antara ksatria dan raja, penyebar kebenaran dan keadilanKeduanya hadir sebagai penyejuk dan penuntun dalam konflik batin maupun sosial
SimbolisasiUlama pewaris nabi (waratsatul anbiya)Resi sebagai titisan Dewa atau utusan Hyang TunggalKeduanya dianggap memiliki hubungan dengan yang Ilahi dan tugas sebagai penjaga amanah langit

—————————————————————

Tanfidziyah NU ibarat ksatria zaman ini: bukan mereka yang sekadar gagah secara lahiriah, tapi yang teguh dalam pengabdian, jujur dalam tindakan, dan sanggup memikul amanah umat. Mereka menjalankan keputusan Syuriyah sebagaimana ksatria menjalankan titah para resi. Bila Syuriyah adalah ruh, maka Tanfidziyah adalah tubuh yang menggerakkan langkah.

Seperti halnya ksatria dalam pewayangan yang melindungi rakyat dari kezaliman dan kebodohan, pengurus Tanfidziyah hadir untuk membawa umat keluar dari ketertinggalan menuju kemajuan, sambil tetap berpijak pada nilai-nilai keislaman yang rahmatan lil alamin.

AspekTanfidziyah Nahdlatul UlamaKsatria dalam PewayanganPersamaan Persepsi
Peran UtamaPelaksana keputusan organisasi, penggerak kegiatan sosial dan keumatanPelaksana dharma, bertugas menjaga keadilan dan kedamaian rakyatSama-sama pelaksana kebijakan dan pemikul tanggung jawab terhadap masyarakat
Hubungan dengan Otoritas SpiritualTunduk dan mengikuti arahan Syuriyah sebagai otoritas keagamaanMendengarkan petuah Resi sebagai guru spiritualKeduanya bersandar kepada kebijaksanaan rohani dalam bertindak
Sifat KepemimpinanAktif, solutif, administratif, dan strategisBerani, bijak, tegas, dan bertanggung jawabKeduanya pemimpin lapangan yang membumikan nilai luhur dalam tindakan nyata
Wilayah GerakSosial kemasyarakatan, ekonomi, pendidikan, politik, kebudayaanMedan perang, tatanan kerajaan, diplomasi antarwilayahSama-sama beroperasi dalam realitas dunia dan menanggung beban pengabdian publik
Orientasi TugasMenjalankan amanah organisasi untuk kemaslahatan umatMenjalankan amanat para dewa dan resi demi keseimbangan duniaTugas mulia yang dijalankan demi umat, rakyat, dan nilai luhur
Risiko JabatanDikritik publik, menghadapi konflik sosial, dilema kebijakanBerperang, menghadapi intrik, bahkan dikorbankan demi kebenaranJabatan berat, penuh tantangan, tapi dijalani dengan semangat pengabdian
Nilai yang DijunjungAkhlaqul karimah, kejujuran, tanggung jawab, amanahSatya (setia), dharma (kebenaran), wibawa, andhap asorNilai luhur dan tanggung jawab sosial menjadi dasar utama tindakan mereka

1. Syuriyah Nahdlatul Ulama dan Resi dalam Pewayangan : Penjaga Spiritualitas dan Kebijaksanaan

Dalam struktur organisasi Nahdlatul Ulama, Syuriyah merupakan lembaga tertinggi dalam hal otoritas keagamaan dan spiritual. Para ulama yang duduk di struktur Syuriyah berperan sebagai penentu arah, pemberi fatwa, dan penjaga kemurnian ajaran Islam Ahlussunnah wal Jama’ah. Fungsi mereka sangat strategis namun tidak terlibat langsung dalam kerja-kerja teknis dan administratif organisasi. Keputusan mereka menjadi pedoman bagi seluruh pengurus di bawahnya, terutama dalam menjaga akidah, ibadah, dan nilai-nilai keislaman yang otentik.

Posisi ini memiliki kemiripan dengan sosok Resi dalam dunia pewayangan. Resi adalah tokoh spiritual, guru kehidupan, dan penuntun moral bagi para ksatria dan raja. Ia tidak duduk di tampuk kekuasaan, tetapi nasehat dan petuahnya sangat menentukan arah perjalanan sebuah kerajaan atau kehidupan seorang tokoh besar. Resi dikenal sebagai sosok yang bertapa, menjalani laku batin, serta memiliki kemampuan ruhani yang mendalam. Kehadirannya bukan hanya sebagai penasihat, tetapi sebagai penjaga keseimbangan antara dunia material dan dunia spiritual.

Maka, Syuriyah dalam NU dapat dimaknai sebagai “Resi zaman modern”, yang menjaga nilai-nilai langit tetap membumi, menuntun umat agar tidak terjebak dalam pragmatisme semata, dan menjadi suluh penerang dalam kegelapan zaman. Keduanya – Syuriyah dan Resi – bukan penguasa duniawi, tetapi pewaris kebijaksanaan ilahiah yang menjadi tumpuan harapan masyarakat dalam urusan batin dan moral.

2. Tanfidziyah Nahdlatul Ulama dan Ksatria dalam Pewayangan : Pelaksana Amanah dan Pejuang di Medan Nyata

Di sisi lain, struktur Tanfidziyah dalam Nahdlatul Ulama bertugas menjalankan keputusan-keputusan Syuriyah secara praktis dan operasional. Mereka adalah para penggerak kegiatan, pengelola organisasi, dan pelaksana program-program sosial, ekonomi, pendidikan, dan dakwah. Tanfidziyah memikul beban administratif dan manajerial, serta harus mampu beradaptasi dengan dinamika masyarakat tanpa meninggalkan prinsip dasar yang ditentukan oleh Syuriyah.

Posisi ini sejalan dengan peran Ksatria dalam pewayangan. Seorang ksatria adalah pelaksana nilai-nilai kebenaran (dharma) di dunia nyata. Ia harus terjun ke medan perang, menghadapi ancaman, mempertahankan kebenaran, serta melindungi rakyat dari kezaliman. Meski kuat dan berani, seorang ksatria sejati selalu berada di bawah bimbingan seorang Resi. Ia tidak bertindak sembarangan, melainkan mengikuti prinsip moral dan spiritual yang ditanamkan oleh gurunya.

Dengan demikian, Tanfidziyah adalah “Ksatria organisasi” dalam konteks NU, yang harus bekerja keras, bersikap tegas, dan bertindak sigap dalam menghadapi tantangan sosial—namun tetap tunduk pada arahan spiritual dari Syuriyah. Seperti ksatria pewayangan yang mengabdi kepada Resi dan berjuang demi rakyat, pengurus Tanfidziyah pun mengabdi kepada umat dan mengawal visi besar Nahdlatul Ulama di tengah tantangan zaman.

3. Penutup : Harmoni Antara Spiritualitas dan Aksi Sosial

Memadukan peran Syuriyah–Resi dan Tanfidziyah–Ksatria menghadirkan harmoni antara dimensi ruhani dan aksi sosial. Ini adalah model kepemimpinan khas Islam Nusantara, di mana organisasi tak hanya bergerak secara struktural, tetapi juga hidup secara spiritual. Para Resi memberi arah, para Ksatria memberi tenaga. Syuriyah menjaga kemurnian, Tanfidziyah menggerakkan perubahan. Dalam bingkai budaya, ini bukan hanya penggabungan istilah, tetapi pertemuan dua peradaban besar: keilmuan Islam dan kebijaksanaan lokal.

Pemahaman ini penting untuk memperkuat semangat ke-NU-an di tengah masyarakat yang masih sangat terikat dengan budaya lokal. Narasi seperti ini bisa menjadi alat dakwah kultural, pendidikan kader, bahkan pondasi pengembangan organisasi yang berakar kuat di bumi dan terhubung ke langit.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini