Beranda Quotes Ilmu adalah Cermin Diri, Bukan Cermin Pembesar untuk Menilai Orang Lain

Ilmu adalah Cermin Diri, Bukan Cermin Pembesar untuk Menilai Orang Lain

147
0
Ilmu adalah Cermin Diri, Bukan Cermin Pembesar untuk Menilai Orang Lain

Ilmu adalah Cermin Diri, Bukan Cermin Pembesar untuk Menilai Orang Lain

Dalam kehidupan sehari-hari, tidak jarang kita merasa dikecewakan oleh perilaku orang-orang di sekitar kita. Kita melihat sikap yang tidak sopan, ucapan yang menyakitkan, atau tindakan yang menurut kita jauh dari adab Islam. Lalu hati kita berbisik: “Mengapa semua orang seperti kehilangan adab?” Namun di saat seperti ini, muhasabah diri harus didahulukan. Jangan-jangan yang buram bukan adab mereka, melainkan kejernihan mata batin kita yang mulai keruh.

“Ketika engkau menganggap semua orang berbuat salah, maka sebaiknya engkau memeriksa kebersihan hatimu. Mungkin engkaulah yang sedang jauh dari cahaya Allah.”

Tanggung Jawab Kita adalah Adab Kita Sendiri

“Dan janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, (karena) boleh jadi mereka (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari mereka.”
(QS. Al-Hujurat: 11)

Islam mengajarkan prinsip husnuzhan (berbaik sangka) sebagai fondasi dari akhlak dan adab yang lurus. Tanggung jawab utama seorang muslim bukanlah memastikan orang lain beradab kepadanya, tetapi bagaimana ia beradab kepada semua orang, baik terhadap yang mencintainya maupun yang membencinya.

“Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya.”
(HR. Abu Dawud no. 4682, Ahmad no. 24677)

Ilmu adalah Cermin untuk Membenahi Diri

“Ilmu bagaikan cermin, ia memantulkan wajahmu yang sebenarnya. Jika kau melihat aib orang lain lebih banyak dari aibmu sendiri, maka cermin itu bukan lagi untuk membenahi dirimu, tetapi telah kau gunakan sebagai alat untuk menelanjangi orang lain.”
(Ihya’ ‘Ulum al-Din, Imam al-Ghazali)

Banyak orang merasa dirinya ‘berilmu’ karena mampu menunjukkan kesalahan orang lain, tetapi sejatinya belum benar-benar menggunakan ilmunya untuk memperbaiki diri.

“Ilmu yang tidak melahirkan adab dan rasa takut kepada Allah adalah hujjah atas dirinya sendiri, bukan rahmat baginya.”
(Madarijus Salikin, Ibnul Qayyim, Jilid 2, hlm. 430)

Jangan Terperdaya oleh Hakim dalam Diri

“Salah satu tanda bergantungnya seseorang pada amalnya adalah ketika ia merendahkan orang yang berdosa.”
(al-Hikam al-‘Atha’iyyah, Ibn ‘Athaillah)

Jika seseorang merasa lebih baik hanya karena dia lebih berilmu atau lebih banyak ibadah, dan memandang orang lain lebih rendah karena dosanya, maka ia belum mengenal Allah dengan benar.

Bersihkan Hati, Jangan Sibuk Menilai

Ketika hati kita mulai mengeluhkan adab orang lain, itu adalah tanda untuk menundukkan ego dan memperbanyak istighfar. Apakah kita benar-benar merasa sudah pantas menilai adab orang lain? Padahal adab kita sendiri masih penuh kekurangan?

Ilmu bukan alat untuk menyucikan diri, tetapi untuk menyadarkan kita akan kekurangan diri. Ilmu bukan kaca pembesar untuk mencari kesalahan orang lain, melainkan cermin jernih untuk membenahi akhlak pribadi.

“Barang siapa yang menutupi aib saudaranya, maka Allah akan menutupi aibnya di dunia dan akhirat.”
(HR. Muslim no. 2590)

Referensi:

  • QS. Al-Hujurat: 11
  • HR. Abu Dawud no. 4682, Ahmad no. 24677
  • HR. Muslim no. 2590
  • Ihya’ ‘Ulum al-Din, Imam al-Ghazali, Kitab Ilmu
  • Madarijus Salikin, Ibnul Qayyim al-Jauziyah, Jilid 2
  • al-Hikam, Ibn ‘Athaillah as-Sakandari

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini