Sebagai murid dan santri dari K.H. Sutarjono Ar Rosyid, Pengasuh Pondok Pesantren Daaruttauhied Kemiri di Purworejo, ketika saya membaca status beliau yang berbunyi, “Ketika satu pintu tertutup, pintu lain terbuka. Tetaplah berusaha.” hati saya bergetar dan merasa bahwa kalimat itu bukan sekadar nasihat umum, melainkan teguran penuh kasih yang seakan menyapa pribadi saya.
Sebagai santri yang ditempa dalam tradisi pesantren, saya memahami bahwa seorang kiai tidak pernah berbicara tanpa makna. Kalimat yang singkat sering kali lahir dari kedalaman tafakur, pengalaman hidup, dan kejernihan hati yang senantiasa terhubung dengan Allah. Dalam diamnya seorang guru, ada doa yang dipanjatkan. Dalam tulisannya yang sederhana, tersimpan bimbingan yang halus namun kuat.
Saya merenungi, mungkin beliau melihat kegelisahan murid-muridnya, atau mungkin Allah menggerakkan hati beliau untuk menyampaikan penguatan bagi siapa saja yang sedang diuji. Dan sebagai santri, saya merasa nasihat itu seperti jawaban atas kebuntuan yang sedang saya rasakan. Ketika rencana tidak berjalan sesuai harapan, ketika usaha belum menampakkan hasil, ketika satu pintu yang saya ketuk seakan tertutup rapat — kalimat beliau hadir seperti cahaya yang menenangkan.
Nasihat itu mengajarkan saya untuk tidak terjebak pada kekecewaan. Bahwa tertutupnya satu pintu bukan akhir dari perjalanan, melainkan bagian dari skenario Allah yang lebih luas. Tugas saya bukan mempertanyakan takdir, tetapi memperbaiki ikhtiar. Bukan meratapi kegagalan, tetapi meningkatkan kesungguhan. “Tetaplah berusaha” adalah perintah halus agar saya tidak menyerah, tidak lemah dalam doa, dan tidak putus asa dari rahmat-Nya.
Saya juga menyadari bahwa dalam tradisi adab kepada guru, setiap nasihat harus disambut dengan muhasabah, bukan dengan perasaan biasa. Jika hati saya merasa tersentuh, itu tanda bahwa ada pelajaran yang harus saya ambil. Mungkin saya kurang sabar, mungkin saya kurang tawakal, atau mungkin saya terlalu menggantungkan harapan pada satu jalan saja.
Sebagai murid, saya ingin menjadikan nasihat beliau bukan sekadar status yang dibaca lalu dilupakan, tetapi sebagai pegangan sikap dalam hidup. Saya ingin membuktikan bahwa didikan guru tidak berhenti di ruang pengajian, melainkan hidup dalam tindakan, kesabaran, dan keteguhan langkah.
Semoga Allah menjaga guru saya dalam kesehatan dan keberkahan, memanjangkan umur beliau dalam kebaikan, serta menjadikan saya santri yang mampu menangkap isyarat hikmah, menjaga adab, dan terus berusaha dengan hati yang bersandar penuh kepada-Nya.
