Oleh Ibnu Rifai, S.Kom
Dalam khazanah tradisi Islam Nusantara, Syuriyah NU bisa dimaknai sebagai Resi zaman modern—mereka bukan sekadar ahli agama, tetapi pelita spiritual yang menerangi jalan masyarakat di tengah zaman yang kian kompleks. Seperti halnya Resi dalam pewayangan yang membimbing ksatria untuk tetap tegak dalam dharma, para ulama Syuriyah membimbing umat agar teguh dalam syariat dan akhlakul karimah.
Dengan memahami persamaan ini, kita dapat menjembatani nilai-nilai Islam yang diusung Nahdlatul Ulama dengan kearifan lokal budaya Jawa yang tertanam dalam kisah pewayangan. Ini adalah bentuk ta’lif al-qulub (penyatuan hati) antara agama dan budaya, antara syariat dan tradisi, antara langit dan bumi.
| Aspek | Syuriyah Nahdlatul Ulama | Resi dalam Pewayangan | Persamaan Persepsi |
|---|---|---|---|
| Peran Utama | Penentu kebijakan keagamaan, rujukan fatwa, pemegang otoritas syar’i | Guru spiritual, pembimbing moral para ksatria dan raja | Keduanya berperan sebagai penjaga nilai, penuntun moral dan spiritual umat |
| Sumber Kewibawaan | Ilmu agama, sanad keilmuan yang tersambung ke ulama-ulama besar | Tapa brata, ilmu kanuragan dan kesaktian rohani dari lelaku panjang | Sama-sama dihormati karena kedalaman ilmu dan ketekunan spiritual |
| Kedudukan Sosial | Di atas struktur Tanfidziyah, sebagai rujukan tertinggi dalam keputusan organisasi | Di luar struktur kerajaan, namun dihormati dan sering dimintai nasihat oleh raja | Memiliki kedudukan tinggi di luar kekuasaan struktural tapi jadi rujukan utama |
| Kekuasaan | Tidak operasional (eksekutif), tetapi mengarahkan dan mengontrol kebijakan | Tidak memerintah langsung, tetapi pengaruhnya besar pada penguasa dan masyarakat | Sama-sama bukan pemegang kuasa langsung, tetapi menentukan arah gerak moral |
| Karakter Kepemimpinan | Kolektif kolegial, musyawarah ulama | Individual, tetapi bisa juga dalam kelompok padepokan | Pemimpin bijak, mengedepankan kebersamaan dan kebatinan, bukan kekuasaan lahiriah |
| Fungsi dalam Konflik | Penengah, pemberi fatwa, penjaga ukhuwah dan kemaslahatan umat | Penyeimbang antara ksatria dan raja, penyebar kebenaran dan keadilan | Keduanya hadir sebagai penyejuk dan penuntun dalam konflik batin maupun sosial |
| Simbolisasi | Ulama pewaris nabi (waratsatul anbiya) | Resi sebagai titisan Dewa atau utusan Hyang Tunggal | Keduanya dianggap memiliki hubungan dengan yang Ilahi dan tugas sebagai penjaga amanah langit |
—————————————————————
Tanfidziyah NU ibarat ksatria zaman ini: bukan mereka yang sekadar gagah secara lahiriah, tapi yang teguh dalam pengabdian, jujur dalam tindakan, dan sanggup memikul amanah umat. Mereka menjalankan keputusan Syuriyah sebagaimana ksatria menjalankan titah para resi. Bila Syuriyah adalah ruh, maka Tanfidziyah adalah tubuh yang menggerakkan langkah.
Seperti halnya ksatria dalam pewayangan yang melindungi rakyat dari kezaliman dan kebodohan, pengurus Tanfidziyah hadir untuk membawa umat keluar dari ketertinggalan menuju kemajuan, sambil tetap berpijak pada nilai-nilai keislaman yang rahmatan lil alamin.
| Aspek | Tanfidziyah Nahdlatul Ulama | Ksatria dalam Pewayangan | Persamaan Persepsi |
|---|---|---|---|
| Peran Utama | Pelaksana keputusan organisasi, penggerak kegiatan sosial dan keumatan | Pelaksana dharma, bertugas menjaga keadilan dan kedamaian rakyat | Sama-sama pelaksana kebijakan dan pemikul tanggung jawab terhadap masyarakat |
| Hubungan dengan Otoritas Spiritual | Tunduk dan mengikuti arahan Syuriyah sebagai otoritas keagamaan | Mendengarkan petuah Resi sebagai guru spiritual | Keduanya bersandar kepada kebijaksanaan rohani dalam bertindak |
| Sifat Kepemimpinan | Aktif, solutif, administratif, dan strategis | Berani, bijak, tegas, dan bertanggung jawab | Keduanya pemimpin lapangan yang membumikan nilai luhur dalam tindakan nyata |
| Wilayah Gerak | Sosial kemasyarakatan, ekonomi, pendidikan, politik, kebudayaan | Medan perang, tatanan kerajaan, diplomasi antarwilayah | Sama-sama beroperasi dalam realitas dunia dan menanggung beban pengabdian publik |
| Orientasi Tugas | Menjalankan amanah organisasi untuk kemaslahatan umat | Menjalankan amanat para dewa dan resi demi keseimbangan dunia | Tugas mulia yang dijalankan demi umat, rakyat, dan nilai luhur |
| Risiko Jabatan | Dikritik publik, menghadapi konflik sosial, dilema kebijakan | Berperang, menghadapi intrik, bahkan dikorbankan demi kebenaran | Jabatan berat, penuh tantangan, tapi dijalani dengan semangat pengabdian |
| Nilai yang Dijunjung | Akhlaqul karimah, kejujuran, tanggung jawab, amanah | Satya (setia), dharma (kebenaran), wibawa, andhap asor | Nilai luhur dan tanggung jawab sosial menjadi dasar utama tindakan mereka |
1. Syuriyah Nahdlatul Ulama dan Resi dalam Pewayangan : Penjaga Spiritualitas dan Kebijaksanaan
Dalam struktur organisasi Nahdlatul Ulama, Syuriyah merupakan lembaga tertinggi dalam hal otoritas keagamaan dan spiritual. Para ulama yang duduk di struktur Syuriyah berperan sebagai penentu arah, pemberi fatwa, dan penjaga kemurnian ajaran Islam Ahlussunnah wal Jama’ah. Fungsi mereka sangat strategis namun tidak terlibat langsung dalam kerja-kerja teknis dan administratif organisasi. Keputusan mereka menjadi pedoman bagi seluruh pengurus di bawahnya, terutama dalam menjaga akidah, ibadah, dan nilai-nilai keislaman yang otentik.
Posisi ini memiliki kemiripan dengan sosok Resi dalam dunia pewayangan. Resi adalah tokoh spiritual, guru kehidupan, dan penuntun moral bagi para ksatria dan raja. Ia tidak duduk di tampuk kekuasaan, tetapi nasehat dan petuahnya sangat menentukan arah perjalanan sebuah kerajaan atau kehidupan seorang tokoh besar. Resi dikenal sebagai sosok yang bertapa, menjalani laku batin, serta memiliki kemampuan ruhani yang mendalam. Kehadirannya bukan hanya sebagai penasihat, tetapi sebagai penjaga keseimbangan antara dunia material dan dunia spiritual.
Maka, Syuriyah dalam NU dapat dimaknai sebagai “Resi zaman modern”, yang menjaga nilai-nilai langit tetap membumi, menuntun umat agar tidak terjebak dalam pragmatisme semata, dan menjadi suluh penerang dalam kegelapan zaman. Keduanya – Syuriyah dan Resi – bukan penguasa duniawi, tetapi pewaris kebijaksanaan ilahiah yang menjadi tumpuan harapan masyarakat dalam urusan batin dan moral.
2. Tanfidziyah Nahdlatul Ulama dan Ksatria dalam Pewayangan : Pelaksana Amanah dan Pejuang di Medan Nyata
Di sisi lain, struktur Tanfidziyah dalam Nahdlatul Ulama bertugas menjalankan keputusan-keputusan Syuriyah secara praktis dan operasional. Mereka adalah para penggerak kegiatan, pengelola organisasi, dan pelaksana program-program sosial, ekonomi, pendidikan, dan dakwah. Tanfidziyah memikul beban administratif dan manajerial, serta harus mampu beradaptasi dengan dinamika masyarakat tanpa meninggalkan prinsip dasar yang ditentukan oleh Syuriyah.
Posisi ini sejalan dengan peran Ksatria dalam pewayangan. Seorang ksatria adalah pelaksana nilai-nilai kebenaran (dharma) di dunia nyata. Ia harus terjun ke medan perang, menghadapi ancaman, mempertahankan kebenaran, serta melindungi rakyat dari kezaliman. Meski kuat dan berani, seorang ksatria sejati selalu berada di bawah bimbingan seorang Resi. Ia tidak bertindak sembarangan, melainkan mengikuti prinsip moral dan spiritual yang ditanamkan oleh gurunya.
Dengan demikian, Tanfidziyah adalah “Ksatria organisasi” dalam konteks NU, yang harus bekerja keras, bersikap tegas, dan bertindak sigap dalam menghadapi tantangan sosial—namun tetap tunduk pada arahan spiritual dari Syuriyah. Seperti ksatria pewayangan yang mengabdi kepada Resi dan berjuang demi rakyat, pengurus Tanfidziyah pun mengabdi kepada umat dan mengawal visi besar Nahdlatul Ulama di tengah tantangan zaman.
3. Penutup : Harmoni Antara Spiritualitas dan Aksi Sosial
Memadukan peran Syuriyah–Resi dan Tanfidziyah–Ksatria menghadirkan harmoni antara dimensi ruhani dan aksi sosial. Ini adalah model kepemimpinan khas Islam Nusantara, di mana organisasi tak hanya bergerak secara struktural, tetapi juga hidup secara spiritual. Para Resi memberi arah, para Ksatria memberi tenaga. Syuriyah menjaga kemurnian, Tanfidziyah menggerakkan perubahan. Dalam bingkai budaya, ini bukan hanya penggabungan istilah, tetapi pertemuan dua peradaban besar: keilmuan Islam dan kebijaksanaan lokal.
Pemahaman ini penting untuk memperkuat semangat ke-NU-an di tengah masyarakat yang masih sangat terikat dengan budaya lokal. Narasi seperti ini bisa menjadi alat dakwah kultural, pendidikan kader, bahkan pondasi pengembangan organisasi yang berakar kuat di bumi dan terhubung ke langit.








